beginilah kelanjutan praktikum farkol, kali ini hewan cobanya kelinci. awalnya saya kira kelincinya yang kecil seperti dijual di jalanan, ternyata,, oh sungguh besar sekali (menurut saya) dan baru saya sadari saya tak kuat menggendongnya (ntah berat atau takut?)
awalnya sang kelinci dilakukan percobaan untuk melihat efek mdiriasis dan miotik pada matanya di mana sang kelinci di tempatkan pada rotarod. saat ini, saya masih biasa saja,, hanya saja, saya tak bs melihat pupilnya -_-
sedangkan, pada percobaan kedua, percobaan dilakukan untuk melihat pengaruh obat otonom terhadap saliva. di sinilah saya merasa tidak tega saat ia di intravena di telinganya. ntah karena dosis uretan kebanyakan atau apa, kelinci benar" lemas. yang jelas banyak kekacauan setelahnya.
syukurlah hingga saat ini, hewan coba kami memiliki semangat juang hidup yang tinggi, ntah ini karena mereka resisten atau dosis yang tidak masuk sepenuhnya. hari ini saya baru menyadari banyak yang bergelimpangan, dan saya merasa takut karena merasa itu adalah hal yang wajar.
kesimpulannya, hingga hari ini saya belum bs mengangkat tikus dan menyuntik dengan baik dan benar (bener" g nyambung ama bahasan kelinci). saya tahu mengapa, karena saya takut digigit dan takut mereka mati akibat salah suntik. begitulah, semoga prak selanjutnya tiada korban bergelimpangan..


No comments:
Post a Comment