Friday, September 24, 2010

cepatlah pergi malas!!

benar-benar malas menulis, lagi banyak banget PR, kuliah sampai maghrib, dan capek ngeliat angkatan yang sibuk ngurusin (mabim) angkatan bawah (nih orang sebenernya benar-benar peduli, apa pengen nyusahin mereka sih??). ditambah lagi 2 minggu lagi UTS yang materi kuliahnya seabrek dan juga belom tuntas setengahnya (masih sedang di kejar-kejar) plus saya yang selalu tepar pas sampai rumah yang harusnya nyicil baca buku biokim, farfis, farkol, dan teman-temannya. suntuuukkknyaaaaa..


:-|
:-[
:-{
:-(
:"-(
:"-O


tooooollllooooooonnnnngggggggggggggg!!!!!!!!!

Thursday, September 23, 2010

Oops, oops oops. Orang-orang pada stress.

benar-benar sedang ribut disini, gara-gara kurikulum baru, MK yang harusnya dipelajari 2 semester, dipangkas jd 1 semester. walhasil sekarang para dosen berusaha ngejar-ngejar menghabiskan materi kuliah. akibatnya kitapun dituntut memberikan waktu lebih untuk menyukseskan terseselaikannya materi dalam waktu 4 bulan (4 bulan dikurang dengan hari-hari libur seperti lebaran, sabtu,  minggu, minggu UTS, UAS dan hari libur-libur lain) pada sore hari bahkan malam hari.


salah satu dosen saya pernah mengatakan, bahwa dahulu beliau menghabiskan waktu 10 tahun untuk menyelesaikan S-1 farmasinya. bayangkan, saat ini waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan S-1 adalah kurang lebih 4 tahun. apa yang sebenarnya menjadi alasan atas 6 tahun yang tersisih ini?. melihat dari waktu yang singkat untuk mendapat gelar, maka dapat dilihat betapa banyak materi kuliah yang tidak tersampaikan, yang tereliminasi. betapa banyak ketrampilan praktikum yang tak pernah dilakukan. jujur, saat ini kebanyakan dari kami hanya belajar untuk mengejar nilai. hanya belajar untuk menorehkan jawaban di lembar ujiannya. apakah tujuan pendidikan saat ini? mendapat gelar dengan waktu sesingkat-singkatnya dengan tanpa keahlian? Astaghfirullah.

yasudahlah,  sebenarnya saya sedang suntuk. semoga ilmu-ilmu yang diajarkan para dosen tersalurkan pada kami. 

Sunday, September 19, 2010

Praktikum farset part 1

berhubung memang ini kerjaan seorang apoteker nantinya, saya harus mengingat kesalahan untuk kebaikan selanjutnya.
1. wadah obat : wadah harus disesuaikan dengan jumlah obat yang di berikan pada pasien, bila jumlah obat sedikit, pilih wadah yang kecil. hal ini dimaksudkan agar sang pasien tidak curiga bahwa ia mendapat obat yang benar. bila wadah besar, obat sedikit, pasien akan mengira bahwa obatnya dikurangi.
2. paraffin liquidum : berhubung kemaren beleber kemana-mana, agar tidak beleber, perkamen dilipat dua, lalu oleskan paraffin membentuk setengah lingkaran, sehingga saat lipatan dibuka, terbentuk lingkaran di tengah kertas perkamen. ingat diolesi, bukan ditetesi.
3. kalibrasi digunakan untuk takaran dalam jumlah tidak tertentu dengan menggunakan gelas ukur. contohnya 23,8 ml atau untuk menandai botol yang tidak ada batasnya. selain itu, dalam mengukur volum zat yang panas, sebaiknya kalibrasi dilakukan dengan air suling terlebih dahulu. karena gelas ukur tidak tahan panas.
4. untuk vaselin yang dimasukkan dalam pot plastik, jangan lupa ditok-tokkan ke meja agar vaselin turun ke dasar wadah.
5. menimbang sirup sebaiknya langsung dibotolnya. yaitu menara dengan menggunakan dua botol yang memiliki ukuran yang sama.
6. ingat lipatan kertas untuk sediaan serbuk, jangan terlalu lebar, kecil, dan kepanjangan. lipatan harus rapi.

oke,,mungkin ini terkesan sangat dasar, tapi ingat, hal-hal yang mendasar itu tidak baik dilupakan..  :)

Wednesday, September 15, 2010

i know how she does it

hari ini saya menyelesaikan novel dari perpustakaan. ternyata saya sudah lama tidak membaca novel sejak masuk kuliah. atau bahkan sama sekali tidak pernah. novel itu berjudul "i don't know how she does it". novel terjemahan, keluaran tahun 2005.

adalah novel yang menceritakan kehidupan sehari-hari yang dijalani oleh seorang ibu karir yang memiliki 2 anak kecil. kate (tokoh utama) adalah seorang manajer investasi di perusahaannya. ia memiliki latar belakang keluarga yang kurang berada. sehingga ia bertekad untuk memiliki kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya. ia mati-matian bekerja hingga sering baginya tidak pergi mengantar tidur anak-anaknya atau berpisah dengan anaknya di pagi hari. namun, ia lakukan untuk terpenuhi apa yang menurutnya diinginkan anaknya seperti hadiah-hadiah hingga rekreasi ke luar negeri. suaminya, richard yang seorang arsitek menerima keadaan istrinya, walau ia harus bergantian menemani sang anak dan ia memiliki penghasilan di bawah penghasilan istrinya.


alur cerita terus mengalir mengisahkan kehidupan kate yang penuh dengan apapun yang harus diingatnya. dari popok bayi, karpet tangga, jumpa dengan klien, pengasuh anak yang suka bolos, presentasi pegawai baru dan lain-lain. di dalamnya diceritakan pula bagaimana ia sangat merasa sedih ketika anaknya akrab dengan pengasuhnya, tidak mengetahui kesukaan anaknya saat ditanya mertuanya, tidak tahu berapa berat badan anaknya sampai isak tangis yang selalu didengarnya sesaat ia meninggalkan rumah menuju kantor. di dalamnya pula dikisahkan bagaimana orang-orang selalu berkata "aku tidak tahu bagaimana ia melakukannya" saat berjumpa denganya.

bak dilema perempuan karir antara memilih karir dan keluarga, kate berdalih apa yang ia lakukan demi mereka. betapa banyak yang harus ia keluarkan dan pikirkan untuk mereka. namun ia sadar bahwa yang paling diinginkan anaknya adalah keberadaan dirinya dirumah bersama mereka.


klimaksnya, richard akhirnya merasa tidak tahan lagi. ia akhirnya meninggalkan rumah saat kate harus jumpa klien di NYC. bahkan kata perpisahannya dituliskan dalam sebuah surat dan dibacakan oleh paula (pengasuh) melalui telepon. kate hilang kendali hingga besoknya ia mendengar anaknya sakit.


sang penulis, allison pearson, benar-benar mahir menggambarkan suasana hati, mendeskripsikan keadaan, dan melayangkan aneka humor. begitu banyak saat-saat yang menyentuh yang menyebabkan kate memilih menghabiskan hari bersama anak-anaknya. emily anak pertamanya pernah mengatakan padanya bahwa ia takkan membiarkan anaknya diasuh oleh seorang pengasuh. celotehan anak yang merupakan kritik besar baginya.


novel ini merupakan nasehat bagi ibu-ibu yang sering meninggalkan anaknya, betapa anak-anak sangat membutuhkan keberadaannya, sekaligus renungan bagi meraka yang memilih karir daripada keluarganya maupun renungan bagi mereka yang belum berkeluarga untuk memilih jalan mana yang akan dipilihnya kelak.


ibu adalah rumah. rumah bagi anak-anaknya. 

*lho kok,,knapa jd resensi novel ya? hohohoo

Tuesday, September 14, 2010

Happy Iedul Fitriiiiiiii !!

"taqqabbalallu minna wa minkum"
alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk bertemu dengan idul fitri tahun ini. semoga tahun depan diberikan kesempatan untuk bertemu ramadhan dan idul fitri kembali.. :)
Ammmiiiiinnnnnnn!!!!!!!