nenek itu berjalan tertatih namun lincah, tak menghiraukan tatapan sekelilingnya dan tak peduli berapa langkah yang telah ditelusurinya. di usianya yang sepuh, sepanjang hari yang tak pernah mengeluh, ia cari, terus mencari, sumber penghidupannya, plastik aqua gelas bekas.
malam itu sang nenek menaiki angkot yang saya naiki. pukul menunjukkan jam 8 malam. bukanlah pertama kalinya saya berjumpa dengannya. seperti hari-hari sebelumnya, mata saya terus tertuju padanya, memperhatikannya.
nenek itu menaiki angkot dengan 2 kantong plastik besar berisi aqua-aqua gelas. dihantamkannya kedua kantung tersebut di pojok tempat duduk. kaget, begitulah yang dirasakan seluruh penumpang. tatapan jijik, iba, acuh, berbagai mimik wajah penumpang terungkap jelas di keremangan malam menunjukkan cermin hati pemiliknya. penumpang terdekat dengannya pasti akan reflek menghindarinya. ntah ganti angkot, atau pindah ke belahan tempat duduk lainnya. seringkali calon penumpang tidak jadi menaiki angkot saat mengetahui adanya nenek ini. apalah daya, sang supir tidak marah atau mengusir sang nenek, kesal memang, berusaha sabar, mengharap balasan lebih dari-Nya.
satu-persatu penumpang sampai pada tujuannya. begitu pula sang nenek. ongkos yang ditawarkannya di tolak sang supir. sang supir tahu perjuangan yang sedang dialaminya. ia pun melangkah menuju tempat peristirahatannya. berjalan sedikit tertatih dengan gembolannya dan pungung bungkuknya. adakah yang menunggu dan menyambutnya di sana? langsung tidurkah ia? ataukah menyantap nasi yang belum juga ia makan di sepanjang harinya? tiada yang tahu, seperti tubuhnya dan jejaknya, menghilang di tengah kegelapan malam.
No comments:
Post a Comment