Thursday, August 26, 2010

Kisah pertemuan dengan kakek-kakek

Pagi ini saya mampir ke indomaret di kawasan Pasar Modern BSD, waktu itu sekitar jam 9-an. Biasa, saya sering mampir ke indomaret atau alfamaret hanya untuk membeli minuman. Pas pertama kali masuk, saya langsung mencari sesuatu yang hendak dibeli, namun tiba-tiba telinga saya mendengar bahasa inggris dari arah kasir, saya mencoba mendengar sedikit, siapa tahu si pembeli tidak bisa berbahasa indonesia dan kasir tidak mengerti bahasa inggris. Namun, kemudian saya mendengar kalimat dengan bahasa Indonesia dari mulut pembeli. Tahukah Anda, apa yang sedang dilakukan pembeli tadi?

Sang pembeli adalah seorang kakek-kakek yang sudah berambut putih seluruhnya. Ia memakai kemeja putih dan celana coklat tua. Kakek tersebut ternyata sedang mengajarkan tenses bahasa inggris pada penjaga kasir yang seorang perempuan.Terdengar kalimat "I go to indomaret" yang kemudian dilanjutkan dengan terjemahannya.

Saya pun menuju kasir. Sang kakek mempersilahkan kemudian melanjutkan penjelasan tensesnya pada mba kasir. Saya terus memperhatikan, kemudian tiba-tiba sang kakek berbalik badan dan bertanya pada saya, "Ibu bisa bahasa inggris?" "sedikit" ujar saya. "oh, a little", katanya dengan mengangguk-angguk. "Ibu punya anak?" sang kakek bertanya lagi. "Oh, saya masih kuliah pak." jawab saya dengan senyuman. "Oooooh". gumam kakek. "Sini saya ajarkan matematika." lanjutnya. Kemudian beliau bertanya perkalian 2 angka, saya tidak bisa langsung menjawab (menghitung dalam bayangan). Dan akhirnya beliau mengajarkan saya tentang perkalian dengan menggunakan konsep multiple and then add. Saya dan beberapa karyawan menyimak, terkadang diselingi tawaan sang karyawan akibat kesalan hitung. Sang kakek bertanya saya kuliah apa. Farmasi jawab saya. Beliau kemudian menimpali bahwasannya apoteker susah dan lama belajarnya. Ya,,begitulah gumam saya dalam hati.

Setelah ia mengajarkan beberapa trik perkalian, saya memberanikan diri bertanya tentang asal mula rumus ini. saya pikir ia mengetahui karena banyak membaca buku atau yang lainnya. Namun sang kakek bercerita bahwa ia sendiri yang menemukannya. Beliau menemukan 16 rumus tingkatan cara perkalian. rumus ini ditemukan 20 tahun yang lalu (saat ini sang kakek berusia 85 tahun) berawal dari butanya matanya sang kakek. Sang kakek mengalami kebutaan akibat darah tinggi yang  kemudian mengakibatkan kaburnya mata. Akhirnya ia menjalani operasi di jerman yang berujung pada pengangkatan retina akibat kesalahan dokter (retinanya di lapisi dengan oil silikon saat dikembalikan ke kornea namun berakibat fatal pada akhirnya). Sang kakek mengaku bahwa ia sekarang hanya bisa melihat bayangan hitam (dengan bantuan sinar matahari) yang merupakan pertanda di depannya ada sebuah benda atau orang. Karena musibah inilah, beliau meyakini bahwasannya Tuhan memberikannya sebuah kelebihan. Ia mengaku tiba-tiba ia mendapatkan pencerahan tentang matematika yang kemudian ia tuliskan dalam sebuah kertas. Penemuan ini pernah di tawarkannya pada Indonesia untuk dibukukan. Beliau rela membagi pemikirannya dengan syarat buku-buku tersebut disebarkan ke setiap desa minimal 1 buah buku. Namun, keinginan ini ditolak. Akhirnya beliau hanya mengjarkan apa yang diketahuinya pada orang-orang di sekitrnya.

Sang kakek terus saja mengatakan bahwasannya otak orang indonesia adalah otak yang terpintar di dunia. Ia kemudian bercerita mengenai keadaan Indonesia, mulai dari politik, hingga keterbelakangan anak-anak muda sekarang. Beliau begitu menyayangkan nasib anak-anak yang putus sekolah dan nsib-nasib orang udik yang menurutknya tidak merdeka seperti orang kotaa. tidak merdeka dari perekonomian maupun pendidikan.

Setelah kurang lebih satu jam kami berbincang, saya pamit karena ingin pulang. Ternyata beliau juga sama. Lalu saya bertanya beliau pulang kemana. Ia mengatakan bahwa saat itu ia sedang main di toko keponakannya (kios mainan anak-anak di pasar modern BSD). Di sepanjang kami berjalan menuju toko keponkannya sang kakek mempersilahkan saya untuk mengunjunginya kapan saja bila saya ingin belajar matematika ataupun bahasa inggris. Sesmpainya di depan toko saya pamit pulang.

Subhanallah. Saya begitu terkesan dengan Pak Billy (saya menanyakan namanya saat perjalanan menuju tokonya). Ia begitu tangguh, sabar dengan keterbatasan yang ia miliki, berusah membagikan ilmunya pada orang-orang sekitarnya dan memiliki mimpi yang tinggi dalam usianya yang sudah menginjak usia sepuh. Saya tersadar, bahwasannya selama ini terlalu banyak main, bukannya mempersiapkan diri untuk menggapai mimpi. Kakek Billy, terima kasih untuk hari ini dan sampai bertemu lagi. :)

No comments:

Post a Comment